Kamis, 28 Juni 2012

Video Klip Doremi di Gunung Batu Desa Cinanjung Sumedang



Di saat-saat jenuh, sumpek sama kegiatan pas PKL Kebidanan Komunitas di Desa Cinanjung Sumedang, hari minggu tanggal 13 Mei 2012, pas lagi waktu senggang tanpa kegiatan dengan masyarakat, kita posko1 nyempetin buat jalan-jalan ke gunung batu, dan bikin video klip seadanya buat mengenang cinanjung, we love you full cinanjung, sebulan yang sangat berkesannnnnnnnn :)

Rabu, 27 Juni 2012

Inovasi


A.    Pengertian Inovasi

      Inovasi (Innovation) ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invention maupun diskoveri (Syaefudin, 2010).
      Menurut Subekti (2007) inovasi adalah segala sesuatu ide, cara-cara ataupun obyek yang dipersepsikan olehseseorang sebagai sesuatu yang baru dan merupakan segala perubahan yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat yang mengalaminya.

B.     Pengertian Difusi dan Diseminasi Inovasi

      Difusi ialah proses komunikasi inovasi antara warga masyarakat (anggota  sistem  sosial),  dengan  menggunakan saluran  tertentu  dan  dalam waktu tertentu. Komunikasi dalam definisi ini ditekankan dalam arti terjadinya saling tukar informasi (hubungan timbal balik), antar beberapa individu baik secara memusat (konvergen) maupun memencar (divergen) yang berlangsung ecara  spontan.  Dengan  adanya  komunikasi  ini  akan  terjadi  kesamaan pendapat antar warga masyarakat tentang inovasi. Jadi difusi dapat merupakan salah satu tipe komunikai yakni komunikasi yang mempunyai ciri pokok, pesan yang dikomunikasikan adalah hal yang baru (inovasi).
      Diseminasi adalah proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Jadi kalau difusi terjadi secara spontan, maka diseminasi  dengan  perencanaan.

C.    Elemen Difusi Inovasi

      Rogers mengemukakan ada 4 elemen pokok difusi inovasi, yaitu :
1.      Inovasi
      Inovasi ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang, baik berupa hasil invensi atau diskoveri yang diadakan untuk mencapai tujuan tertentu.   Dengan   adanya   informasi   akan memperjelas arah inovasi tersebut. Rogers membedakan dua macam informasi, pertama informasi yang berkaitan dengan pertanyaan “ Apa inovasi (hal yang baru) itu?”, “Bagaimana menggunakannya?”, “Mengapa perlu itu?”. Informasi yang kedua berkaitan dengan penilaian inovasi atau  berkaitan dengan  pertanyaan “Apa manfaat menerapkan inovasi?”. “Apa konsekuensinya menggunakan inovasi?.”
      Jika anggota sistem sosial (warga masyarakat) yang menjadi sasaran inovasi   dapat   memperoleh   informasi   yang   dapat   menjawab   berbagai pertanyaan  tersebut  dengan  jelas,  maka  akan  hilanglah  ketidak  tentuan terhadap inovasi. Mereka telah memperoleh pengertian yang mantap apa inovasi itu. Mereka akan menerima dan juga menerapkan inovasi. Cepat lambatnya proses penerimaan inovasi dipengaruhi juga oleh atribut dan karakteristik inovasi.

2.      Komunikasi dengan saluran tertentu

      Komunikasi   dalam   difusi   inovasi   ini   diartikan   sebagai   proses pertukaran informasi  antara  anggota sistem  sosial,  sehingga terjadi  saling pengertian antara satu dengan yang lain. Saluran komunikasi merupakan alat untuk menyampaikan informasi dari seorang ke orang lain. Saluran interpersonal (hubungan secara langsung antar individu), lebih efektif untuk mempengaruhi atau membujuk seseorang agar mau menerima inovasi, terutama antara orang yang bersahabat atau mempunyai hubungan yang erat. Dalam penggunaan saluran interpersonal dapat juga terjadi hubungan untuk beberapa orang, dengan kata lain saluran interpersonal dapat dilakukan dalam suatu kelompok.
3.      Waktu
      Waktu adalah elemen yang penting dalam proses difusi, karena waktu merupakan aspek utama dalam proses komunikasi. Peranan dimensi waktu dalam proses difusi terdapat pada tiga  hal sebagai berikut:
a.       Proses keputusan inovasi ialah proses sejak seseorang mengetahui inovasi pertama  kali  sampai  ia  memutuskan  untuk  menerima  atau  menolak inovasi.
b.      Kepekaan seseorang terhadap inovasi. Tidak semua orang dalam suatu sistem  sosial  menerima  inovasi  dalam  waktu   yang  sama.  Mereka menerima inovasi dari urutan waktu, artinya ada yang dahulu ada yang kemudian. Orang yang menerima inovasi lebih dahulu secara reletif lebih peka terhadap inovasi daripada yang menerima inovasi lebih akhir. Jadi kepekaan inovasi ditandai dengan lebih dahulunya seseorang menerima inovasi dari yang lain dalam suatu sistem sosial (masyarakat).
c.       Kecepatan penerimaan inovasi ialah kecepatan relatif diterimanya inovasi oleh warga masyarakat. Kecepatan inovasi biasanya diukur berdasarkan lamanya waktu yang diperlukan untuk mencapai prosentase tertentu dari jumlah waktu masyarkat yang telah menerima inovasi. Oleh karen itu pengkuran kecepatan inovasi cenderung diukur dengan berdasarkan tinjauan penerimaan inovasi oleh keseluruhan warga masyarakat bukan penerimaan inovasi secara individual.
4.       Warga Masyarakat (anggota sistem sosial)
      Warga Masyarakat (anggota sistem sosial) ialah hubungan (interaksi antar individu atau orang dengan bekerja sama untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan tertentu.

D.    Proses Inovasi

      Berikut  ini  diberikan  uraian  secara  singkat  proses  inovasi  dalam organisasi menurut Zaltman, Duncan, dan Holbek (1973). Zaltman dan kawan-kawan membagi proses inovasi dalam organisasi menjadi  dua  tahap  yaitu  tahap  permulaan  (initiation  stage)  dan  tahap implementasi (implementation stage).
1.      Tahap Permulaan (Intiation Stage)
a.        Langkah pengetahuan dan kesadaran
      Sebelum inovasi dapat diterima calon penerima harus sudah menyadari bahwa ada inovasi, dan dengan demikian ada kesempatan untuk menggunakan inovasi dalam organisasi. Jika pimpinan sadar bahwa terdapat suatu kertetinggalan, kemudian akan merubah hasil yang diharapkan dan menciptakan inovasi.



b.      Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi
      Dalam tahap ini anggota organisasi membentuk sikap terhadap inovasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap inovasi memegang peranan yang penting untuk menimbulkan motivasi untuk ingin berubah atau mau menerima inovasi. Ada dua hal dari dimensi sikap yang dapat ditunjukkan anggota organisasi terhadap adanya inovasi yaitu:
1)      Sikap terbuka terhadap inovasi
2)      Memiliki persepsi tentang potensi inovasi
c.       Langkah pengambilan keputusan
      Jika unit pengambil keputusan dalam organisasi menganggap bahwa inovasi itu memang dapat diterima dan ia senang untuk menerimanya maka inovasi akan diterima dan diterapkan. Demikian pula sebaliknya jika unit pengambil keputusan tidak menyukai inovasi dan menganggap inovasi tidak bermanfaat maka ia akan  menolaknya.  Pada  saat  akan  mengambil  keputusan  peranan komunikasi sangat penting untuk memeperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya   tentang   inovasi.  




2.      Tahap Implementasi (Implementation Stage)
a.        Langkah awal (permulaan) implementasi

      Pada langkah ini organisasi mencoba menerapkan sebagian inovasi. Misalnya setelah Dekan memutuskan bahwa semua dosen harus membuat persiapan mengajar dengan model Satuan Acara perkuliahan, maka pada awal penerapannya setiap dosen diwajibkan membuat untuk satu mata kuliah dulu, sebelum nanti akan berlaku untuk semua mata kuliah.
b.      Langkah kelanjutan pembinaan penerapan inovasi
Jika pada penerapan awal telah berhasil, para anggota telah mengetahui dan memahami inovasi, serta memperoleh pengalaman dalam menerapkannya, maka tinggal melanjutkan dan menjaga kelangsungannya (Syaefudin, 2010).

Kelas Ibu Balita

Kelas ibu balita merupakan kelas untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman antar ibu balita tentang kebutuhan balita. Nah kelas ini merupakan satu program untuk memanfaatkan buku KIA dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Sama seperti kelas ibu hamil, tetapi memang kebutuhannya saja yang berbeda. Kelas ibu balita masih jarang diadakan, karena merupakan program baru dan belum tersosialisasi penuh ke seluruh indonesia, bahkan banyak bidan yang belum mengetahui tentang kelas ini. Kebetulan, untuk tugas akhir saya dalam mengerjakan Karya Tulis Ilmiah adalah membuat inovasi kelas ibu balita di suatu daerah. Akhirnya saya membuat kelas ibu balita di wilayah posyandu Alamanda RW 05 Kelurahan Cigadung Kecamatan Cibeunying Kaler wilayah kerja Puskesmas Neglasari Kota Bandung. 

Karena tugas akhir saya jenisnya inovasi, yang berbeda dengan teman-teman lainnya seperti penelitian, studi literatur dan studi kasus, perjalanan saya sampai terselesaikannya kelas ini cukup lama. Untuk membuat inovasi tugas akhir, cukup memakan waktu dan biaya. Waktu yang saya habiskan untuk pelaksanaan yaitu selama 3 minggu, itu untuk pelaksanaannya saja, belum untuk persiapannya kurang lebih 1 bulan, itupun harus terpotong potong karena padatnya jadwal semester VI kebidanan. 

Persiapan dan pelaksanaan yang saya lakukan diantaranya :
  1. mencari tempat atau daerah yang sesuai untuk diadakan kelas ibu balita, melakukan advokasi pada tokoh masyarakat didaerah tersebut.
  2. membuat proposal kelas ibu balita sebagai syarat pembuatan surat kesbang dan tembusan untuk dinas kesehatan ke puskesmas.
  3. membuat persiapan untuk sosialisasi. sosialisasi ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan kelas ibu balita seperti apa kepada masyarakat, dan membuat kesepakatan tentang jadwal pelaksanaan.
  4. pelaksanaan yang dilakukan selama 3 minggu, dilakukan 2x dalam seminggu, total pertemuan sebanyak 6 x pertemuan kelas ibu balita. 
Biaya yang harus saya keluarkan kurang lebih 1 juta rupiah, untuk keperluan alat dan bahan kelas ibu balita, makanan ringan untuk ibu balita, biaya transportasi untuk bidan dan kader yang telah membantu. Tidak untuk penelitian, studi literatur dan studi kasus, mungkin tidak sebesar itu biaya yang harus dikeluarkan. 

Kelas ibu balita di bagi ke dalam 3 kelompok, yaitu kelas 0-1 tahun, 1-2 tahun, 2-5 tahun. Materinya pun disesuaikan dengan kebutuhan ibu  balita seperti yang ada pada pedoman dan pegangan fasilitator kelas ibu balita. 

Alhamdulilah, pembimbing saya mengarahkan tugas akhir ini dengan baik, saya sadar bahwa inovasi walau banyak memakan waktu dan biaya, namun dirasakan besar manfaatnya oleh saya sendiri yang dapat mengaplikasikan ilmu dikelas ke lapangan sesungguhnya, membantu masyarakat untuk menerima ilmu tentang kebutuhan balitanya, juga untuk membantu program puskesmas.Selain itu, menurut para senior, saat sidang, untuk inovasi tidak terlalu sulit, karena yang ditanyakan adalah seputar apa yang kita lakukan. Berbeda dengan penelitian yang akan ditanya seputar biostatistik dan metode penelitian, dengan literatur yang harus molotok tentang berbagai sumber yang didapatkan, dan studi kasus yang harus menguasai ilmu tentang kasus yang dia ambil, misalnya masalah PEB atau pre eklampsi berat, dia harus menguasai seluruhnya tentang itu, dari mulai gejala, patofisiologi, dan penanganannya.

Ini dia foto - foto kegiatan kelas ibu balita yang telah saya lakukan : 






Sosialisasi kelas ibu balita >>






<< kelas ibu balita dirumah ibu ririn (ibu balita)




<< Diskusi, bertukar pengalaman dan pemberian materi  




role play atau praktek cara atau posisi menyusui langsung di praktekan oleh ibu balita menggunakan phantom bayi >>





<< foto bersama dengan kelas ibu balita A (usia 0-1 tahun )





<< dihadiri oleh dosen pembimbing, bidan puskesmas dan kader posyandu

Koleksi flanel lagi :)


Bros kupu-kupu cocok buat anak kecil, ga cuma bisa jadi bros aja sih, jepit juga bisa, tinggal ganti peniti bros nya aja pake jepit... buatnya gampang, sayapnya model kerut, kepala sama badanya model gulung, antene kupu-kupunya pake putik bunga, bahan-bahannya banyak dijual di toko bahan asesoris...



Bros bunga, sama ga cuma bisa bros aja, dijadiin jepit juga bisa. Ini model sistem kerut, gampang banget buatnya, di tengahnya dikasih kancing bunga, tapi bisa lebih bagus tergantung dari kreasi kita kaya gimana...




Bros atau jepit pita belang, ukurannya 7x10 cm, gampang banget buatnya, ga sampe 5 menit ko. bisa dikreasiin sesuai warna yang kita mau ...




Kalo yang ini bros atau jepit pita tapi bahannya bukan dari flanel, tapi dari pita motif pulkadot warna, ditengahnya dikasih kancing bunga, simpel banget buat ini ...


Ini bros model sistem kerut juga, kerutnya bisa pake lem tembak, atau dijahit, gimana kita maunya yang mana, kalo ini lebih pake lem tembak, soalnya lebih mudah ngelekukin kain buat jadi kelopaknya, ga ribet juga... 



Ini bros model sistem kerut juga, kerutnya bisa pake lem tembak, atau dijahit, gimana kita maunya yang mana, kalo ini lebih pake lem tembak, soalnya lebih mudah ngelekukin kain buat jadi kelopaknya, ga ribet juga... bedanya sama yang diatas, model kelopaknya, bisa dilihat....




 Nah ini beda dari bunga bunga yang diatas, mirip kaya yang diatas, cuma di sisi kelopaknya saling ditumpuk .... terus kelopak atasnya bukan dari kain puring, tapi dari flanel lagi ....



Ini boneka flanel ukuran 15x35 cm.. sebenernya ini tugas UAS temen jurusan desain grafis, agak ga nyambung ya.. hehe.. Kotak bonekanya bikin sendiri, gampang aja, tinggal bikin pola nya aja, bahannya dari karton duplek warna kuning, terus tinggal dibungkus sesuai keinginan kita aja, plastiknya itu pake plastik mika kalo kita buat jilid makalah gitu...