Minggu, 20 Maret 2011

HIV dalam Kehamilan dan Persalinan


Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah nama untuk virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dalam ilmu biologi, yang dimaksud dengan virus adalah parasit yang berperilaku sebagai makhluk hidup ketika berada pada jaringan hidup, termasuk jaringan pada tubuh manusia, hewan, tumbuhan, jamur, dan bakteri. Khususnya bagi manusia, sebagian besar virus dapat menjadi agen penyakit tertentu.  Di antara penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, AIDS merupakan penyakit yang saat ini paling ditakuti orang karena sejauh ini obat untuk penyakit AIDS belum berhasil ditemukan.
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi virus HIV tersebut. Gejala tersebut diantaranya demam, keringat malam hari, lesu, ruam, nyeri kepala, lymphadenopathia, pharyngitis, nyeri otot, mual dan muntah serta diare. Infeksi virus HIV secara perlahan menyebabkan tubuh kehilangan kekebalannya oleh karenanya berbagai penyakit akan mudah masuk ke dalam tubuh. Akibatnya penyakit-penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi bahaya bagi tubuh.
slowly but deadly“, pelan tapi mematikan itulah julukan untuk virus penyakit yang satu ini. HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan bagi manusia, bahkan hingga saat ini belum ditemukan obat untuk mengatasi penyakit yang menyerang sistem kekebalan manusia itu. Cara penularan virus tersebut bisa melalui caira sperma atau vagina dengan berhubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersama dari orang yang sudah terinfeksi HIV, transfusi darah yang terkontaminasi virus HIV, dan dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya.
Orang yang terinfeksi HIV biasanya dapat hidup bertahun-tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda penyakit. Mereka mungkin tampak sehat dan merasa sehat tetapi dapat menularkan virus pada orang lain. Pengobatan hanya akan membantu Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) untuk hidup lebih lama tetapi penyakit AIDS sendiri belum dapat disembuhkan tetapi dapat ditekan jumlah HIV dengan obat antiretroviral (ARV).
Dari uraian diatas telah menyebutkan, bahwa salah satu penularan HIV/AIDS yaitu dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya. Penularan HIV dari ibu ke anak merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia, seperti 25 sampai 35% dari semua bayi yang ibunya tidak diobati memiliki suatu strain virus menjadi terinfeksi. Tragisnya, angka ini diterjemahkan menjadi sekitar setengah juta bayi yang lahir setiap tahun sudah didiagnosis dengan HIV.
Menurut suatu penelitian, sekitar 120.000 sampai 160.000 perempuan di Amerika Serikat diperkirakan telah terinfeksi HIV. Sekitar 6.000 sampai 7.000 perempuan terinfeksi HIV melahirkan setiap tahunnya. Sejak awal epidemi HIV / AIDS, sekitar 15.000 anak-anak di Amerika Serikat telah terinfeksi HIV dan 3.000 anak meninggal.   Di Indonesia sendiri, jumlah perempuan hamil yang terinfeksi HIV di Indonesia terus meningkat. Menurut perkiraan DepKes RI sekitar 7000 perempuan hamil terinfeksi HIV setiap tahun. Niat untuk hamil dan mempunyai anak perlu didengarkan dan dicarikan jalan keluarnya agar pasangan yang HIV negatif tidak tertular HIV begitu juga anak yang dikandung. Salah satu cara untuk mengurangi risiko penularan pada pasangan suami HIV positif dan istri HIV negatif.  Perempuan HIV positif yang hamil akan menghadapi risiko keadaan yang tidak diinginkan seperti abortus spontan, kematian janin dalam kandungan, pertumbuhan janin yang terhambat, berat badan bayi rendah, bayi premaur dan korioamneitis. Selain itu berbagai infeksi menular seksual seperti kandidiasis vulvovaginal, vaginosis bacterial, herpes genital, gonorea, sifilis dapat menyertai kehamilan pada perempuan HIV positif. Risiko penularan pada masa kehamilan sekitar 7%, pada proses kelahiran 15% serta penularan melalui air susu ibu sekitar 13%. Melalui upaya pencegahan yang lengkap risiko ini dapat diturunkan hingga menjadi hanya 2%.
Ibu denganHIV-positif dapat mengurangi risiko bayinya tertular dengan mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV), menjaga proses kelahiran yang singkat dan menghindari menyusui. Penggunaan ARV, risiko penularan sangat rendah bila terapi ARV (ART) dipakai. Angka penularan hanya 1-2 persen bila ibu memakai ART. Angka ini kurang-lebih 4 persen bila ibu memakai AZT selama enam bulan terahkir kehamilannya dan bayinya diberikan AZT selama enam minggu pertama hidupnya. Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit melahirkan, ada dua cara yang dapat mengurangi separuh penularan ini, yaitu AZT dan 3TC dipakai selama waktu persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir dan satu tablet nevirapine pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 2-3 hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen. Namun, resistansi terhadap nevirapine dapat muncul pada hingga 20 persen perempuan yang memakai satu tablet waktu hamil. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu. Resistansi ini juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui. Walaupun begitu, terapi jangka pendek ini lebih terjangkau di negara berkembang. Menjaga proses kelahiran tetap singkat waktunya, semakin lama proses kelahiran, semakin besar risiko penularan. Untuk mengurangi risiko penularan, proses persalinan dapat dilakukan dengan operasi sesar. Menghindari menyusui,  kurang-lebih 14 % bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi. Risiko ini dapat dihindari jika bayinya diberi pengganti ASI (PASI, atau formula). Namun jika PASI tidak diberi secara benar, risiko lain pada bayinya menjadi semakin tinggi. Jika formula tidak bisa dilarut dengan air bersih, atau masalah biaya menyebabkan jumlah formula yang diberikan tidak cukup, lebih baik bayi disusui. Yang terburuk adalah campuran ASI dan PASI. Mungkin cara paling cocok untuk sebagian besar ibu di Indonesia adalah menyusui secara eksklusif (tidak campur dengan PASI) selama 3-4 bulan pertama, kemudian diganti dengan formula secara eksklusif (tidak campur dengan ASI).
Jika dites HIV, sebagian besar bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV-positif menunjukkan hasil positif. Ini berarti ada antibodi terhadap HIV dalam darahnya. Namun bayi menerima antibodi dari ibunya, agar melindunginya sehingga sistem kekebalan tubuhnya terbentuk penuh. Jadi hasil tes positif pada awal hidup bukan berarti si bayi terinfeksi. Jika bayi ternyata terinfeksi, sistem kekebalan tubuhnya akan membentuk antibodi terhadap HIV, dan tes HIV akan terus-menerus menunjukkan hasil positif. Jika bayi tidak terinfeksi, antibodi dari ibu akan hilang sehingga hasil tes menjadi negatif setelah kurang-lebih 6-12 bulan. Sebuah tes lain, serupa dengan tes viral load dapat dipakai untuk menentukan apakah bayi terinfeksi, biasanya beberapa minggu setelah lahir. Tes ini, yang mencari virus bukan antibodi, saat ini hanya tersedia di Jakarta, dan harganya cukup mahal.
            Penelitian baru menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif yang hamil tidak menjadi lebih sakit dibandingkan yang tidak hamil. Ini berarti menjadi hamil tidak mempengaruhi kesehatan perempuan HIV-positif. Namun, terapi jangka pendek untuk mencegah penularan pada bayi bukan pilihan terbaik untuk kesehatan ibu. ART adalah pengobatan baku. Jika seorang perempuan hamil hanya memakai obat waktu persalinan, kemungkinan virus dalam tubuhnya akan menjadi resistan terhadap obat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan masalah untuk pengobatan lanjutannya.
Seorang ibu hamil sebaiknya mempertimbangkan semua masalah yang mungkin terjadi terkait ART, seperti jangan memakai ddI bersama dengan d4T dalam ART-nya karena kombinasi ini dapat menimbulkan asidosis laktik dengan angka tinggi, jangan memakai efavirenz atau indinavir selama kehamilan, bila CD4-nya lebih dari 250, jangan mulai memakai nevirapine. Beberapa dokter mengusulkan perempuan berhenti pengobatannya pada triwulan pertama kehamilan, karena risiko dosis dilewatkan akibat mual dan muntah selama awal kehamilan dengan risiko mengembangkan resistansi terhadap obat yang dipakai, Risiko obat mengakibatkan anak cacat lahir, yang tertinggi pada triwulan pertama, tidak ada bukti terjadi cacat lahir, selain dengan efavirenz. Para ahli tidak sepakat apakah penggunaan ART menimbulkan risiko lebih tinggi terhadap lahir dini atau bayi lahir dengan berat badan rendah.
Jika kita HIV-positif dan dalam keadaan hamil, atau ingin  hamil, sebaiknya kita bicara dengan dokter tentang pilihan menjagakan kesehatan sendiri, dan mengurangi risiko bayi kita terinfeksi HIV atau cacat lahir.








Jumat, 04 Maret 2011

EFEK SAMPING AKDR/IUD DAN KOMPLIKASI YANG DAPAT TERJADI DAN CARA PENANGGULANGANNYA



        AKDR/IUD merupakan suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya bermacam – macam, terdiri dari plastik (polietiline). Ada yang dililit tembaga dan ada yang tidak. Contoh : IUD Cu T, MLCu, Lippes Loop.

Kegagalan yang terjadi :
        AKDR/IUD berupa alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim dan angka kegagalannya 0,3 – 1,0 %. Kegagalan dapat terjadi kalo pemasangan tidak benar, misalnya hanya di daerah leher rahim atau keluar dari rahim (translokasi). Juga bila KADR/IUD sudah keluar dari rahim tanpa diketahui oleh akseptor (ekspulsi). Kadang – kadang terjadi kehamilan dengan spiral/IUD masih di dalam rahim disebabkan AKDR/IUD tersebut tidak efektif karena pemakainnya mlebihi jangka waktu yang ditentukan (antara 5-8 tahun).

        Gejala efek samping yang ditimbulkan oleh AKDR/IUD antara lain terjadinya gangguan haid/menstruasi, keputihan, perasaan kurang enak yang disertai demam menggigil, dapat juga terjadi benangnya tidak teraba ataupun keliarnya cairan vagina yang berlebihan. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut terus berlanjut maka segera lakukan rujukan ke tempat pelayanan.

Beberapa masalah AKDR/IUD yang sering terjadi dan cara penanggulangannya :

MASALAH
CARA PENANGGULANGANNYA
a.   Pendarahan, gangguan haid berlebihan memang kadang - kadang terjadi pada 3 bulan pertama pemakaian AKDR/IUD
-      Kalo permasalahan ringan, dianjurkan agar dilakukan konseling, dan apabila pendarahan banyak, dianjurkan agar dirujuk ke tempat pelayanan
-      Kompres perut dengan air dingin
-      Dibawa ke klinik atau rumah sakit terdekat
b.   Nyeri perut bagian bawah atau keputihan yang berbau
-      Segera dibawa ke puskesma untuk pengobatan selanjutnya, karena kemungkinan terjadi infeksi
c.   Perasaan kurang enak, demam, menggigil
-      Segera dibawa ke petugas kesehatan
d.   Benang AKDR hilang, bertambah pendek atau memanjang
-      Jika akseptor mengetahui bahwa AKDR-nya telah keluar, hilang, agar segera dibawa ke klinik atau RS terdekat
-      Bila terjadi kehamilan segera dibawa ke pelayanan kesehatan lengkap
e.   Bila terjadi cairan vagina yang banyak
-      Segera dirujuk ke klinik atau rumah sakit terdekat

Sumber : Panduan penanggulangan efek samping dan komplikasi akibat kontrasepsi bagi petugas lapangan, Bandung : Badan koordinasi keluarga berencana nasional propinsi jawa barat, 2004.

Masalah Sistem Pencernaan pada Kehamilan




A.    Gastritis

a.    Definisi

Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung (cuningham,2005). Sedangkan, Gastritis adalah inflamasi pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa gaster (Sujono Hadi, 1999).

b.    Etiologi

     Gastritis dapat disebabkan oleh terlalu banyak minum alkohol, penggunaan obat-obat anti peradangan nonsteroid jangka panjang (NSAIDs) seperti aspirin atau ibuprofen, atau infeksi bakteri-bakteri seperti Helicobacter pylori (H. pylori). Kadangkala gastritis berkembang setelah operasi utama, luka trauma, luka-luka bakar, atau infeksi-infeksi berat. Penyakit-penyakit tertentu, seperti pernicious anemia, kelainan-kelainan autoimun, dan mengalirnya kembali asam yang kronis, dapat juga menyebabkan gastritis.

c.    Faktor predisposisi

          Faktor predisposisi adalah bahan-bahan kimia, merokok, kafein, steroid, obat analgetik, anti inflamasi, cuka atau lada.

d.    Klasifikasi

Gastritis dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :

1.  Gastritis akut

          Gastritis akut merupakan iritasi mukosa lambung yang sering diakibatkan karena diet yang tidak teratur. Dimana individu makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab. Gastritis akut merupakan penyakit yang sering ditemukan biasanya jinak dan dapat sembuh dengan sendirinya, merupakan respon mukosa lambung terhadap berbagai iritasi lokal.

2.    Gastritis Kronik

          Merupakan iritasi lambung yang dapat disebakan oleh ulcus benigna atau maligna dari lambung atau lebih helicobacter pylori.

e.    Patofisiologi

     Mekanisme kerusakan mukosa pada gastritis diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara faktor-faktor pencernaan, seperti asam lambung dan pepsin dengan produksi mukous, bikarbonat dan aliran darah.

f.     Tanda dan gejala

       Nyeri epigastrium yang tidak hebat, nyeri tekan pada epigastrium, mual, muntah anoreksia, muntah darah bila berat.

g.    Komplikasi

1.    Gastritis akut

Perdarahan saluran cerna bagian atas berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syok hemoragik.

2.    Gastritis kronik

Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi, dan anemia karena gangguan absorpsi vitamin B12.

h.    Efek pada kehamilan

Wanita hamil dengan gastritis mungkin lebih rentan terhadap mual dan muntah. Muntah dan akan menghalangi ibu dan  bayi untuk mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Jika ibu tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup, maka akan berpengaruh pada janin. Misalnya kemungkinan janin mengalami BBLR.

i.      Penanganan


1.    Melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik sesuai keluhan yang dirasakan oleh ibu

2.    Pengobatan gastritis antara lain meliputi :

1)    Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi.
2)    Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat   dijumpai.
3)    Pemberian obat-obat antasid atau obat-obat ulkus lambung yanglain. (Soeparman, 1999)

B.    Appendiksitis

a.    Definisi

            Apendiksitis adalah kondisi yang ditandai oleh peradangan dari apendiks.

b.    Etiologi

            Penyebabnya hampir selalu akibat obstruksi lumen appendix oleh apendikolit, fekalomas (tinja yang mengeras), parasit (biasanya cacing ascaris), benda asing, karsinoid, jaringan parut, mukus, dan lain-lain.


c.    Patofisiologi

         Oklusi lumen appendiks mencegah sekresi mukosa menjadi kering. Sebagian sekresi menumpuk, tekanan intraluminal meningkat dan mempengaruhi aliran darah mukosa yang menyebabkan hipoksia. The iskemia mukosa dapat berkembang menjadi ulkus, yang memberikan jalan masuk untuk invasi bakteri. Invasi bakteri memicu respon inflamasi akut, dengan edema mukosa yang meningkat, edema tersebut akan menyebabkan obstruksi selanjutnya mengganggu aliran darah. Karena arteri appendiks merupakan akhir percabangan dari arteri ileocolic. Hal itu sangat rentan terhadap oklusi dari tekanan intraluminal meningkat. Sumbatan biasanya menyebabkan nekrosis dan perforasi usus buntu.

d.    Tanda dan Gejala

1.    Nyeri dibagian abdomen kanan bawah menuju ke tengah
2.    Anoreksia, rasa tidak enak, konstipasi, kadang kadang disertai diare, dan mual muntah
3.    Tergantung pada lokasi appendix, gejala lain yang dapat terjadi adalah :
a.    Apendiks yang berdekatan dengan kandung kemih akan terasa nyeri saat buang air kecil dan menjadi lebih sering untuk berkemih
b.    Retrocecal atau panggul terasa  nyeri perut dalam panggul atau pada pemeriksaan dubur
4.    Suhu normal atau sedikit tinggi (37,2° sampai 38° C ; 99° sampai 100°F) namun 25% afebris
5.    Takikardia juga menyertai suhu yang meninggi
6.    Pyuria
7.    Berkurang atau bahkan tidak ada suara bising usus
8.    Tanda – tanda perforasi :
a.    peningkatan rasa sakit, kelembutan, kejang diikuti dengan adanya peritonitis umum atau lokal
b.    peningkatan suhu,rasa tidak enak, takikardi
c.    diagnosis usus buntu dibuat dengan berkurangnya peristaltis dan berkurangnya kompresibilitas usus buntu (Witlin & Sibai, 1996).

e.    Efek pada Kehamilan

         Laparoskopi operasi dapat dilakukan dengan aman selama kehamilan, tetapi kemungkinan komplikasi, seperti cedera rahim, kesulitan selama prosedur, peningkatan tekanan intra-abdomen dan penyerapan CO2 oleh janin dan ibu harus dipertimbangkan serius walau efek dari penyerapan tersebut masih belum jelas, namun Dalam studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal masyarakat Amerika anestesi 2004, penulis menyimpulkan bahwa pneumoperitoneum CO2 menghasilkan asidosis pernafasan, tetapi tidak menurunkan oksigenasi janin, sebaliknya temuan menunjukkan bahwa pada janin prematur, insuflasi diinduksi hypercapnia dan asidosis disertai dengan janin hipoksia berkepanjangan dan depresi kardiovaskular.

f.     Penatalaksanaan


1.    Penanganan awal

a)    Konsultasi

1)   Konsul dengan dokter untuk diagnosis
2)   Mengacu wanita untuk ahli bedah dalam kasus-kasus yang dicurigai apendisitis

b)    Pendidikan pada pasien

1)   Menjelaskan proses terjadinya penyakit, kemajuan dan rencana perawatan
2)   Memberi nasihat pada pasien mengenai kemungkinan operasi jika diagnosis usus buntu telah ditetapkan
3)   Mengajarkan pasien tentang tanda dan gejala persalinan prematur

c)    Manajement perawatan

1)    dalam kehamilan,  dugaan usus buntu adalah diagnosis untuk dilakukannya laparotomi (witlin & sibai, 1996)
2)    selama observasi, pasien harus istirahat dan diberikan apapun melalui mulut. Tidak ada obat pencahar atau narkotika harus diresepkan, ini akan mengganggu penilaian untuk pengembangan penyakit
3)    merujuk klien kepada dokter bedah segera setelah kecurigaan yang kuat atau diagnosis usus buntu dibuat
4)    melakukan pengawasan pada janin pada kehamilan sebelum dan setelah dilakukan operasi, namun atas indikasi

2.    Penanganan lanjut

a.       Tindak lanjut atas indikasi dari dokter bedah
b.      melakukan pengujian pengawasan pada janin dan pemantauan aktivitas rahim, seperti ditunjukkan untuk kecurigaan diagnosis dan ketika ada kecurigaan usus buntu

C.    Wasir (Hemoroid)

a.    Definisi

          Hemoroid (Wasir) adalah pembengkakan jaringan yang mengandung pembuluh balik (vena) dan terletak di dinding rektum dan anus. Hemoroid bisa mengalami peradangan, menyebabkan terbentuknya bekuan darah (trombus), perdarahan atau akan membesar dan menonjol keluar. Wasir yang tetap berada di anus disebut hemoroid interna (wasir dalam) dan wasir yang keluar dari anus disebut hemoroid eksterna (wasir luar).

b.    Etiologi

          Wasir bisa terjadi karena peregangan berulang selama buang air besar, dan sembelit (kesulitan buang air besar, konstipasi) bisa membuat peregangannya bertambah buruk.  Penyakit hati menyebabkan kenaikan tekanan darah pada vena portal dan kadang-kadang menyebabkan terbentuknya wasir.


c.    Faktor Predisposisi

Dalam kehamilan dapat terjadi pelebaran vena hemoroidalis interna dan pleksus hemoroidalis eksterna, karena terdapatnya konstipasi dan pembesaran uterus. Hemoroid ini lebih nyata dan dapat menonjol keluar anus. Wasir yang kecil kadang – kadang tidak menimbulkan komplikasi hebat yaitu rasa nyeri serta perdarahan pada saat buang air besar, serta sesuatu yang keluar dari anus. (Sarwono,2007)

d.    Klasifikasi

Hemoroid dibedakan menjadi dua yaitu :

1.    Hemoroid Intern adalah Vena yang berdilatasi pada pleksus vena hemoroidalis superior dan media atau hemoroid yang terjadi atas sfingter anal. Hemaroid intern ini dibagi menjadi 4 tingkat yaitu :

1)    Tingkat I           : varises satu atau lebih V. hemoroidales interna dengan gejala perdarahan berwarna merah segar pada saat buang air besar.
2)    Tingkat II           : varises dari satu atau lebih v. hemoroidales interna yang keluar dari dubur pada saat defekasi tetapi masih dapat kembali dengan sendirinya.
3)    Tingkat III          : seperti tingkat II tetapi tidak dapat masuk spontan, harus didorong kembali.
4)    TingkatIV           : telah terjadi inkarserasi

2.    Hemaroid ektern yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus. Hemoroid inferior terdapat disebelah distal garis mukokutan didalam jaringan dibawah epitel anus atau hemaroid yang muncul di luar sfingter anus.

e.    Patofisiologi

         Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Kantung-kantung vena yang melebar menonjol ke dalam saluran anus dan rektum terjadi trombosis, ulserasi, perdarahan dan nyeri. Perdarahan umumnya terjadi akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar meskipun berasal dari vena karena kaya akan asam. Nyeri yang timbul akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis. Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid. Trombosis ini akan mengakibatkan iskemi pada daerah tersebut dan nekrosis.

Hemorrhoid interna:

         Sumbatan aliran darah system porta menyebabkan timbulnya hipertensi portal dan terbentuk kolateral pada vena hemorroidalis superior dan medius. Selain itu Sistem vena portal tidak mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.

Hemorrid eksterna:

         Robeknya vena hemorroidalis inferior membentuk hematoma di kulit yang berwarna kebiruan, kenyal-keras,dan nyeri. Bentuk ini sering nyeri dan gatal karena ujung-ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri.


f.     Tanda dan gejala

Adanya keluhan rasa perih di daerah anus, perdarahan, serta pada pengamatan ditemukan vena yang membengkak di anus atau di rectum. Pada hemoroid interna dan eksterna yang tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu diberi pengobatan, dan setelah melahirkan hemoroid tersebut akan mengecil sendirinya.

g.    Komplikasi

Komplikasi dari hemoroid yang paling sering adalah perdarahan, trombosis, dan strangulasi. Hemoroid yang mengalami strangulasi adalah hemoroid yang mengalami prolapsus dimana suplai darah dihalangi oleh sfingter ani. Keadaan trombosis dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan dapat menyebabkan nekrosis mukosa dan kulit yang menutupinya.
h.    Efek pada kehamilan

          Sebenarnya wasir tidak terlalu membahayakan, baik bagi ibu hamil maupun bagi janinnya. Meskipun sering keluar darah dari duburnya namun tak akan menularkan penyakit kepada janin, karena wasir sama sekali tidak berhubungan langsung dengan janin yang keluar melalui vagina. Ibu akan mengalami ketidaknyamanan sehingga aktivitasnya sehari-hari menjadi terganggu dan ia tidak menjalani kehamilannya dengan nyaman akibat perih yang ia rasakan. Bahaya wasir pada wanita hamil adalah timbulnya pendarahan yang bisa mengakibatkan anemia. Tetapi wasir bukan penghalang bagi ibu hamil yang ingin melahirkan normal meskipun wasir yang ia derita berada pada grade 3. Jika memang nantinya harus digunting, maka saat pengguntingan bisa diatur arahnya. Misalnya tidak menggunting ke arah anus tetapi ke sampingnya. Jika menggunting ke arah anus dikhawatirkan akan terjadi pendarahan.

i.      Penatalaksanaan

1.    Pencegahan

a)    Hindari mengejan terlalu keras saat buang air besar.
b)    Lakukan aktivitas buang air besar secara rutin. Misalnya sekali sehari.
c)    Yang paling aman adalah buang air besar dengan WC jongkok, karena dengan berjongkok tidak terjadi hambatan pembuluh darah. Sebaliknya pada saat duduk, ada hambatan pembuluh darah di wilayah anus. Namun hal ini masih harus diteliti lebih lanjut.
d)    Berolahraga-lah secara teratur.
e)    Perbanyak makanan yang kaya akan serat. Konsumsi serat yang dianjurkan adalah sekitar 30 ­ 35 gram per hari. Bahan makanan yang kaya akan serat adalah sereal, beras tumbuk, beras merah, ketan hitam, gandum, jagung, singkong, sayuran hijau atau agar-agar.
f)    Banyak minum air, paling sedikit 2 liter atau 8 gelas per hari.
g)    Harus diwaspadai pula, wasir sering kambuh walau sudah dilakukan pengobatan. Maka, mencegah lebih baik daripada mengobati.


D.   Thypus Abdominalis

a.    Definisi

        Tifus Abdominalis (demam tifoid enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang besarnya tedapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. (FKUI, 1985). Tifus abdominalis adalah infeksi yang mengenai usus halus, disebarkan dari kotoran ke mulut melalui makanan dan air minum yang tercemar dan sering timbul dalam wabah. (Markum, 1991).

b.    Etiologi

        Tyfus abdominalis disebabkan oleh salmonella typhosa, basil gram negatif, bergerak dengan bulu getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurngnya 3 macam antigen yaitu antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipopolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen Vi. Dalam serum penderita terdapat zat anti (glutanin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.

c.    Faktor predisposisi

            Faktor predisposisinya adalah minum air mentah, makan makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dari wc dan menyiapkan makanan.

d.    Patofisiologi

        Kuman salmonella typhosa masuk kedalam saluran cerna, bersama makanan dan minuman, sabagian besar akan mati oleh asam lambung HCL dan sebagian ada yang lolos (hidup), kemudian kuman masuk kedalam usus (plag payer) dan mengeluarkan endotoksin sehingga menyebabkan bakterimia primer dan mengakibatkan perdangan setempat, kemudian kuman melalui pembuluh darah limfe akan menuju ke organ RES terutama pada organ hati dan limfe. Di organ RES ini sebagian kuman akan difagosif dan sebagian yang tidak difagosif akan berkembang biak dan akan masuk pembuluh darah sehingga menyebar ke organ lain, terutama usus halus sehingga menyebabkan peradangan yang mengakibatkan malabsorbsi nutrien dan hiperperistaltik usus sehingga terjadi diare. Pada hipotalamus akan menekan termoregulasi yang mengakibatkan demam remiten dan terjadi hipermetabolisme tubuh akibatnya tubuh menjadi mudah lelah.
Selain itu endotoksin yang masuk kepembuluh darah kapiler menyebabkan roseola pada kulit dan lidah hipermi. Pada hati dan limpa akan terjadi hepatospleno megali. Konstipasi bisa terjadi menyebabkan komplikasi intestinal (perdarahan usus, perfarasi, peritonitis) dan ekstra intestinal (pnemonia, meningitis, kolesistitis, neuropsikratrik).

e.    Tanda dan gejala

Masa inkubasi rata-rata 2 minggu gejalanya: cepat lelah, malaise, anoreksia, sakit kepala, rasa tidak enak di perut, dan nyeri seluruh badan. Demam berangsur-angsur naik selama minggu pertama. Demam terjadi terutama pada sore dan malam hari (febris remitten). Pada minggu 2 dan 3 demam terus menerus tinggi (febris kontinue) dan kemudian turun berangsur-angsur.
Gangguan gastrointestinal, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor-berselaput putih dan pinggirnya hiperemis, perut agak kembung dan mungkin nyeri tekan, bradikardi relatif, kenaikan denyut nadi tidak sesuai dengan kenaikan suhu badan (Junadi, 1982).

f.     Komplikasi

1.     Pada usus halus:

1)    Perdarahan usus. Hanya sedikit ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak, terjadi melena, dapat disertai nyeri perut.
2)    Perforasi usus. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum.
3)    Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut hebat, dinding abdomen tegang dan nyeri tekan.

2.     Di luar usus

Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterinya) yaitu meningitis, kolesistisis, enselovati, dll

g.    Efek pada kehamilan, persalinan dan nifas

1.    Pada Kehamilan
          Penyakit ini lebih mungkin di jumpai selama Epidemi atau pada mereka yang terinfeksi oleh virus Imunodefisiensi manusia (HIV). Pada tahun 1990 di laporkan bahwa demam tifoid antepartum dahulu menyebabkan abortus hampir 80% / kasus, dengan angka kematian janin 60%, dan angka kematian ibu 25%. Penyakit Typhus Abdominalis ini masuknya ke bagian infeksi dari bakteri salmonella dan shigella. Berpengaruh terhadap kehamilan karna bisa menyebabkan kematian janin.
2.    Pada Persalinan
          Penyakit ini dapat terjadi melalui makanan dan minuman yang terinfeksi oleh bakteri Salmonella typhosa. Kuman ini masuk melalui mulut terus ke  lambung lalu ke usus halus. Di usus halus, bakteri ini memperbanyak diri lalu dilepaskan kedalam darah, akibatnya terjadi panas tinggi. Sehingga dapat berpengaruh pada janin kemungkinan bisa gawat janin.
3.    Pada Nifas
          Penyakit ini di tularkan melalui makan dan dampaknya bisa ke ibu dan bayi , dari ibunya sendiri bisa tertular lewat makanan yang sudah tercemar dan gejalanya meliputi: diare, nyeri abdomen, mual dan muntah, pada ibu yang  mempunyai penyakit ini bisa juga menular pada bayinya lewat ASI ibu dan mengakibatkan demam yang tinggi bila tidak di tindak lanjuti akan mengakibatkan kematian pada ibu dan bayinya.

h.    Penatalaksanaan


1.       Perawatan

a.  Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus.

b.  Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan - perubahan posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.


2.       Diet

a.  Pada mulanya klien diberikan bubur saring kemudian bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.

b.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada klien.

Daftar Pustaka


1.    Cunningham, F. Gary, 2005, Obstetric Wiliams, Edisi 21, EGC : Jakarta
2.    Doughty, B. Dorothy, 1993, Gastrointestinal Disorders, Mosby’s clinical nursing series
3.    Mansjoer, Arif, 2001, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Aesculapius : Jakarta
4.    Prawirahardjo S, 2007, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Penerbit : Yayasan Bina Pustaka, Jakarta
5.    Star L. Winifred, 1995, Ambulatory Obstetric Third, Edisi 3, USA : American Nurses Publishing.
6.    Dikutip pada tanggal 23 Februari 2011 pukul 13.12 wib http://www.scribd.com/doc/14051235/Gastritis
7.    Dikutip pada tanggal 23 Februari 2011 pukul 11.21 wib file:///D:/PENTING%20!/SEMESTER%20IV/ASKEB%20IV%20%28PATOLOGI%29/Gastritis.htm
8.    Dikutip pada tanggal 20 Febuari 2011 pukul 14.10