Senin, 10 Oktober 2011

Bayi 650 gram



Sekitar jam 00.10 wib Tanggal 10-10-11 sewaktu saya sedang dinas malam di Ruang Perinatologi di salah satu rumah sakit di subang, tiba-tiba seorang bapak datang mengetuk pintu ruang peri sambil membawa suatu bungkusan kecil yang dibalut kain pernel. Sontak kami semua yang sedang dinas malam terkejut ternyata yang dibawa bapa itu adalah seorang bayi yang lahir immatur baru sekitar 5 bulan usia kehamilan. Entah prematur kontraksi atau hal apa yang terjadi pada ibu bayi tersebut. Yang pasti bayi tersebut adalah bayi rujukan bukan bayi asli yang ditolong di rumah sakit tersebut. Sempat kami pasrah dengan keadaan bayi laki-laki yang hanya memiliki berat sekitar 650 gram. Namun atas persetujuan keluarga klien (bayi), kami melakukan resusitasi dan infus dengan harapan bayi bisa lebih panjang menjalani kehidupannya. Walaupun kami tahu bahwa sebenarnya paru-paru bayi pun belum berkembang sempurna dan hanya detak jantung yang bisa membuat bayi tersebut hidup.


Akhirnya sekitar pukul 02.45 wib, bayi tersebut sudah tidak dapat tertolong karena memang kondisi fisik yang jauh dari harapan untuk bisa hidup lebih panjang. Namun sebenarnya dari segi teori, bayi yang baru berusia 5 bulan kehamilan dengan berat 650 gram dapat hidup beberapa jam adalah bayi yang biasa. 

Semangat ade bayi =)




Selasa, 27 September 2011

Belajar Anak TK :D

 



Kebidanan..

Kuliahnya macem - macem ternyata, sampe bikin kaya yang biasa anak TK bikin pun kami pelajari. Tapi beda dong, ya sekilas mirip membuat gambar berwarnam, rumah, sawah, sungai, lapang bola kaya yang di samping ini.



Tapi sebenernya ini emang ada kaitannya sama kebidanan ko, kita lagi kuliah Asuhan Kebidanan 5 (komunitas). Jadi ini semacam gimana sih bidan menggerakan masyarakat buat nyelesein masalah yang ada di masyarakat itu sendiri, berbasis dari oleh dan untuk masyarakat.






 
Sebenernya banyak metode penyelesaian masalah yang bisa kita lakuin kalo ada di komunitas, kaya transect, diagram venn, pemetaan, kalender musim, pohon masalah melalui focus group discussion. Nah dari gambar - gambar ini contoh dari pemetaan. Jadi kita dengan masyarakat bersama - sama menganalisis berapa sih jumlah ibu hamil, ibu nifas, bayi, balita, remaja, pasangan usia subur, wanita usia subur, lansia, yang kita gambarkan pake simbol di peta itu. Kaitannya apa? tentunya buat mempermudah bidan memberikan pelayanan kepada masyarakat. 


Semoga ngga cuma dikelas kita bisa mengaplikasikan pendekatan penyelesaian masalah di masyarakat ini, saat kita terjun di masyarakat semoga masyarakat dimana kita nanti PBL komunitas, kita diterima oleh masyarakat dan dapat membantu mengkordinir masyarakat untuk menyelesesaikan masalah yang ada disekitar wilayah masyarakat tsb. 

Rabu, 21 September 2011

Pelukan Yang Menyelamatkan



bungaca:

katadurita:

sahilcripnigga:

This picture is from an article called “The Rescuing Hug”. The article details the first week of life of a set of twins. Each were in their respective incubators and one was not expected to live. A hospital nurse fought against the hospital rules and placed the babies in one incubator. When they were placed together, the healthier of the two threw an arm over her sister in an endearing embrace. The smaller baby’s heart stabilized and temperature rose to normal.

Subhanallah :)

Kelak makin pengen punya anak kembar :)
Gambar ini diambil dari sebuah artikel yang berjudul " The Rescuing Hug" . Secara singkat isi artikel ini menceritakan tentang kehidupan di minggu pertama pada bayi kembar. Kedua nya ditempatkan pada inkubator yang berbeda, salah satu bayi memiliki kemungkinan kecil untuk dapat hidup lebih lama dari kembarannya, namun seorang perawat berperang melawan peraturan di RS tersebut dan menempatkan kedua bayi dalam 1 inkubator, ketika mereka ditempatkan bersama - sama, keduanya semakin sehat karena pelukan menawan dari seorang kakak pada adiknya. Akhirnya jantung bayi stabil dan suhu dalam keadaan normal.

subhanalloh :) 


Kisah Ibu Hamil Ngidam Pemoles Furnitur


SEORANG perempuan asal Amerika yang tengah hamil tujuh bulan memiliki hasrat ngidam yang unik. Ia mengalami kemauan tak terkendali untuk mengonsumsi pemoles furnitur semprot. 

Veness Emma, 26, mengonsumsi pemoles furnitur yang disemprotkan tiga kali sehari dan memilih produk pemoles bermerek Asda Smart Price. Hingga kini, diketahui ia telah mengonsumsi tiga kaleng. 

“Saya sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa menyukainya. Mungkin karena teksturnya. Biasanya saya akan menyemprotkan sedikit di jari saya dan menjilatinya atau menyemprotkan pada kain lap lalu menghirupnya,” kata Veness, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (18/7). 

Veness didiagnosis menderita Pica yakni sebuah gangguan yang penderitanya memiliki keinginan kuat (ngidam) akan sesuatu yang benar-benar tidak ada nilai nutrisinya. Kebanyakan perempuan hamil akan mengidam makanan selama kehamilan, tetapi ada juga menginginkan zat selain makanan seperti kotoran, kapur, atau kertas. 

Diduga, hasrat Pica melibatkan upaya tubuh untuk mengisi kekurangan vitamin dan mineral. Pica diklasifikasikan sebagai gangguan mental dalam jurnal Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. “Saya sudah menemui dokter kandungan, tapi ia hanya memberikan saran agar saya mengganti kebiasaan itu dengan makan cokelat,” katanya. (Pri/OL-06) 

- media hidup sehat

Kejamnya Kereta Dorong Bayi


MENURUT ahli kesehatan anak terkemuka asal Australia, ibu yang menggendong bayi menghadap ke depan dinilai kejam dan egois. Begitu juga dengan yang menaruh bayi di kereta dorong yang menghadap jauh dari orang tua. 

Cathrine Fowler, seorang profesor keperawatan anak dan kesehatan keluarga, mengklaim anak-anak akan ketakutan jika dibawa dalam gendongan atau didorong di kereta bayi tanpa terlihat dari orang tua. 

“Bayangkan jika Anda sendiri diikat ke dada seseorang dengan kaki dan tangan menggapai-gapai, tanpa kontrol ke dalam satu pusat perbelanjaan yang padat, itu pastinya akan menakutkan,” kata Profesor Fowler seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (22/8). Maka itulah ia menyimpulkan menggendong bayi menghadap depan akan menciptakan situasi yang sangat stress bagi anak. 

Komentar Profesor Fowler itu tak hanya diterapkan untuk bayi yang baru lahir, tetapi juga anak-anak sampai usia satu tahun. 

Komentar itu dilontarkannya berdasarkan studi pada 2008 yang menemukan bahwa bayi akan menderita bila mereka tal dapat melihat orang tua mereka saat berada di dalam kereta dorong. Dalam penelitian oleh University of Dundee itu, akademisi menemukan bahwa kereta bayi yang menghadapi ke depan bisa membuat anak menjadi mudah cemas saat dewasa. Anak-anak akan merasa sulit mendapatkan perhatian orang tua mereka. Sebaliknya, metode tradisional dengan menggunakan kereta bayi yang menghadap orang tua membuat bayi akan lebih mungkin untuk tertawa, mendengarkan ibu mereka berbicara, dan mudah tidur. Itu otomatis yang menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah. (Pri/OL-06) 

- media hidup sehat

Selasa, 06 September 2011

Lirik iklan BKKBN versi Wish Shireen Sungkan - Teuku Wisnu

Suka iklan sama liriknya bagus :D

Ingin ku sunting dirimu
Mau ah aku mau
Tapi jangan buru - buru
Aw tunggu cukup usia dulu
Agar bahtera kita indah slamanya
Jangan hamil cepat - cepat
Jangan lahir rapat - rapat
Agar bayi lahir sehat dan ibu selamat
Dua anak lebih baik :D ! AHAHAHA

Senin, 25 Juli 2011

Metode Penelitian

Penelitian berhubungan dengan usaha untuk mengetahui sesuatu. Ada dua cara yang pernah digunakan oleh para ahli dalam upaya mencari tahu sesuatu pengetahuan yang baru yaitu cara atau pendekatan rasional dan empiris.

  1. Rasional, pendekatan rasional merupakan suatu cara untuk mencari tahu sesuatu pengetahuan yang baru dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang ingin dikatehui itu ada di dalam pikiran manusia. Adalah kemampuan seseorang untuk berfikir, dengan menggunakan akal sehat atau rasional, untuk menemukan pengetahuan tersebut dari pikirannya. 
  2. Empiris, menurut pendekatan empiris pengetahuan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi. Jawaban atas suatu permasalahan ada pada obyek di mana masalah tersebut berada dan bukan di dalam pikiran seseorang. Pada pendekatan empiris, pengetahuan didasarkan atas fakta - fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi. Salah satu bagian dari pendekatan empiris adalah metode ilmiah.
Metode ilmiah merupakan suatu cara mempereoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab permasalahan - permasalahan penelitian yang dilakukan secara ilmiah. Adapun langkah - langkah umum metode ilmiah dapat dilihat dari bagan dibawah ini.




Secara umum metode ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah. Setelah masalah teridentifikasi langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara atas permasalahan penelitian yang kebenarannya masih diuji.

Peredaran Darah Janin

Darah janin dialirkan ke plasenta melalui arteri umbilikalis --> darah tersebut masuk ke dalam tubuh janin melalui vena umbilikalis yang kemudian bercabang menjadi dua --> cabang tersebut adalah vena porta, lalu beredar ke hati dan diangkut oleh vena hepatika ke vena cava inferior --> cabang lainnya adalah duktus venosus arantii yang lansgung masuk ke dalam vena cava inferior --> darah yang sama - sama berasal dari vena cava inferior menuju ke atrium kanan dan atrium kiri. Pada orang dewasa tidak demikian, ini salah satu yang membedakan peredaran aliran darah janin dan orang dewasa, karena adanya foramen ovale. Darah juga ada yang mengalir ke ventrikel kanan bersama darah dari vena cava superior yang membawa darah dari kepala dan anggota atas. --> Darah dari ventrikel kanan masuk ke arteri pulmonalis yaitu ke organ paru - paru, sebagian dialirkan ke aorta melalui duktus arteriosus botalli. Darah yang sebagian kecil menuju ke paru - paru tadi melalui vena pulmonalis --> masuk ke atrium kiri bersama darah dari vena cava inferior dan masuk ke ventrikel kiri lalu menuju aorta.

Setelah bayi lahir, karena adanya reflek bernafas dari bayi terjadi penurunan tekanan pada arteri pulmonalis, sehingga banyak darah mengalir ke paru - paru --> maka duktus arteriosus botalli tertutup 1-2menit setelah bayi bernafas.

Dengan terguntingnya tali pusat, maka darah dalam vena cava inferior berkurang --> maka tekanan pada atrium kanan juga berkurang --> namun sebaliknya tekanan dari atrium kiri bertambah karena darah yang datang dari paru - paru bertambah --> akibatnya terjadi penutupan foramen ovale.

Sumber : Sastrawinata Sulaiman, Obstetri Fisiologi, Fak. Kedokteran UNPAD Bandung, 1983

Sabtu, 02 Juli 2011

Sunat Perempuan ??

Yang saya tahu, saat ini sunat perempuan sudah dilarang. Tapi saya membaca dari satu wacana ....

  foto 

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kementerian Kesehatan keukeuh tak mencabut peraturan tentang sunat perempuan. Mereka berdalih peraturan itu justru untuk mencegah dampak negatif pada kesehatan mereka yang disunat.

Karena itu, melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1636/MENKES/PER/2010 tentang Sunat Perempuan, diatur bagaimana sunat para perempuan itu harus dilakukan. Dalam aturan itu disebutkan tata cara detail penyunatan.

Dalam aturan itu disebut sunat hanya boleh dilakukan oleh petugas medis, yakni dokter, perawat, dan bidan. Agar tak menimbulkan dampak buruk, kata dia, para petugas medis harus mengikuti prosedur tindakan antara lain mencuci tangan pakai sabun, menggunakan sarung tangan. Selanjutnya, penyunatan hanya cukup dilakukan dengan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris (frenulum klitoris) dengan menggunakan ujung jarum steril sekali pakai dari sisi mukosa ke arah kulit, tanpa melukai klitoris. "Tidak memotong, dan tidak boleh menimbulkan pendarahan," kata Murti Utami, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan, saat dihubungi pada Jumat, 1 Juli 2011.

Sunat tidak boleh dilakukan pada perempuan yang sedang menderita infeksi genitalia eskterna atau infeksi umum. Selain tak boleh memotong klitoris, sunat juga tidak merusak labia minora, labia majora, hymen atau selaput dara, dan vagina, baik sebagian maupun seluruhnya.

Selain itu, sunat itu juga harus atas permintaan orang tua atau wali anak. Jika sunat perempuan dilakukan sesuai dengan yang diatur di Permenkes, kata Murti, sunat itu tidak akan menimbulkan dampak negatif. "Tidak ada dampaknya, justru aman," katanya.
Meski ada aturan ini, kata Murti, pemerintah tidak mewajibkan perempuan disunat. Tapi, apabila ada perempuan yang ingin disunat, Permenkes itu digunakan sebagai acuan oleh tenaga kesehatan tertentu.

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2011/07/01/brk,20110701-344259,id.html
Jadi sebenarnya saat ini sunat perempuaan tersebut diperbolehkan jika mau dan tidak juga diwajibkan ..

Minggu, 29 Mei 2011

Sejarah Kebidanan Masa Lampau

Di Mesir kuno, kebidanan adalah pekerjaan perempuan yang diakui, seperti yang dibuktikan oleh papirus yang berasal Ebers 1900-1550 SM. Lima kolom papirus ini berhubungan dengan kebidanan dan ginekologi, terutama mengenai percepatan proses kelahiran dan kelahiran bayi yang baru lahir prognosis. The Westcar papirus, tanggal sampai 1700 SM, termasuk instruksi untuk menghitung perkiraan tanggal kurungan dan menggambarkan gaya yang berbeda kelahiran kursi. Bas relief di kamar kelahiran kerajaan di Luxor dan candi-candi lain juga membuktikan kehadiran berat kebidanan dalam budaya ini.
Kebidanan di Yunani-Romawi kuno meliputi sejumlah wanita, termasuk wanita-wanita tua yang meneruskan tradisi medis rakyat di desa-desa Kekaisaran Romawi, bidan terlatih pengetahuan mereka yang dikumpulkan dari berbagai sumber, dan sangat terlatih perempuan yang dianggap dokter wanita .
Namun, ada karakteristik tertentu yang diinginkan dalam suatu “baik” bidan, seperti yang dijelaskan oleh dokter Soranus Efesus di abad kedua. Dia menyatakan dalam karyanya, Ginekologi, bahwa “orang yang sesuai akan melek, dengan akal tentang dia, memiliki ingatan yang baik, mencintai pekerjaan, terhormat dan umumnya tidak terlalu cacat sebagai indranya regards [yaitu, penglihatan, penciuman, pendengaran ], suara ekstremitas, kuat, dan, menurut beberapa orang, diberkahi dengan jari-jarinya ramping panjang dan pendek kuku di ujung-ujung jarinya. “Soranus juga merekomendasikan bahwa bidan menjadi simpatik disposisi (walaupun dia tidak perlu melahirkan anak sendiri) dan bahwa ia menjaga tangannya lembut untuk kenyamanan ibu dan anak.
Pliny, dokter lain dari zaman ini, bernilai Kemuliaan dan yang tenang dan tak mencolok disposisi dalam bidan.
Seorang perempuan yang memiliki kombinasi fisik, kebajikan, keterampilan, dan pendidikan pasti sudah sulit ditemukan di jaman dahulu. Oleh karena itu, tampaknya telah tiga “nilai” dari bidan hadir di zaman kuno. Yang pertama adalah ahli teknis, yang kedua mungkin telah membaca beberapa teks pada kebidanan dan ginekologi, tetapi yang ketiga sangat terlatih dan cukup dianggap sebagai dokter spesialis dengan konsentrasi di kebidanan.
Bidan yang dikenal dengan berbagai judul di zaman kuno, mulai dari iatrinē, maia, obstetrix, dan MEDICA.
Tampaknya kebidanan diperlakukan berbeda di ujung Timur Laut Tengah baskom sebagai lawan Barat. Di Timur, beberapa wanita maju di luar profesi bidan (maia) dengan yang dokter kandungan (iatros gynaikeios), yang diperlukan pelatihan formal. Juga, ada beberapa traktat kebidanan beredar di kalangan medis dan berpendidikan dari Timur yang ditulis oleh perempuan dengan nama Yunani, walaupun wanita ini sangat sedikit jumlahnya. Berdasarkan fakta-fakta ini, akan terlihat bahwa kebidanan di Timur terhormat adalah profesi yang terhormat perempuan bisa mendapatkan mata pencaharian mereka dan cukup harga diri untuk menerbitkan karya membaca dan dikutip oleh dokter laki-laki. Pada kenyataannya, sejumlah ketentuan hukum Romawi sangat menyarankan bahwa bidan menikmati status dan upah yang setara dengan laki-laki dokter. [5] Satu contoh dari bides yang dikutip dari Salpe Lemnos, yang menulis tentang penyakit wanita dan disebutkan beberapa kali dalam karya Pliny.
Namun, di Romawi Barat, pengetahuan kita tentang cara mempraktekkan bidan datang terutama dari epitaphs penguburan. Dua hipotesis yang diusulkan dengan melihat sampel kecil epitaphs ini. Yang pertama adalah bidan bukanlah profesi yang freeborn keluarga perempuan yang telah menikmati status bebas dari beberapa generasi tertarik; oleh karena itu tampaknya bahwa sebagian besar bidan adalah dari budak asal. Kedua, karena sebagian besar epitaphs pemakaman ini menggambarkan perempuan sebagai dibebaskan, maka dapat diusulkan bahwa bidan umumnya cukup dihargai, dan memperoleh pendapatan yang cukup, untuk bisa mendapatkan kebebasan mereka. Tidak diketahui dari epitaphs ini bagaimana perempuan budak tertentu dipilih untuk pelatihan sebagai bidan. Gadis budak mungkin telah magang, dan kemungkinan besar bahwa ibu mengajarkan anak-anak perempuan mereka.
Sebenarnya tugas para bidan di zaman kuno terutama terdiri dari membantu proses kelahiran, meskipun mereka dapat juga membantu dalam masalah-masalah medis lainnya yang berhubungan dengan wanita jika diperlukan. Sering kali, bidan juga akan memanggil dokter yang akan on-call dengan dia di dalam kasus yang lebih sulit prosedur yang dibutuhkan selama persalinan abnormal dan dalam kebanyakan kasus ia membawa dua atau tiga asisten.
Pada zaman kuno, hal itu percaya oleh kedua bidan dan dokter yang melahirkan normal dibuat lebih mudah ketika seorang wanita duduk tegak. Oleh karena itu, selama proses kelahiran, bidan membawa bangku ke rumah di mana pengiriman berlangsung. Di kursi kursi adalah lubang berbentuk bulan sabit di mana bayi akan disampaikan. Kursi juga memiliki lengan kursi bagi ibu untuk pegang selama pengiriman. Sebagian besar kursi yang telah punggung pasien bisa menekan, tapi Soranus menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, kursi-kursi asisten backless dan harus berdiri di belakang pasien dan dukungan padanya.
Bidan lalu menghadap pasien, lembut dilatasi dan menarik janin ke depan, sambil memerintahkan para ibu pada pernapasan dan bagaimana untuk mendorong ke bawah selama kontraksi. Asisten membantu dengan mendorong ke bawah pada perut pasien. Akhirnya, bidan menerima bayi, meletakkannya di potongan-potongan kain, memotong tali pusat, dan dibersihkan bayi.
Anak itu ditaburi dengan “halus dan tepung garam, atau natron atau aphronitre” untuk menyerap residu kelahiran , dibilas, dan kemudian bubuk dan dibilas lagi. Selanjutnya, para bidan dibersihkan setiap dan semua hadir lendir dari hidung, mulut, telinga, atau anus. Bidan didorong oleh Soranus untuk menaruh minyak zaitun di mata bayi untuk membersihkan diri setiap kelahiran residu, dan untuk menempatkan sepotong wol direndam dalam minyak zaitun di atas tali pusar. Setelah melahirkan, bidan panggilan pertama dibuat pada apakah atau tidak seorang bayi sehat dan cocok untuk belakang. Dia memeriksa bawaan bayi yang baru lahir cacat dan pengujian yang menangis mendengar apakah atau tidak itu kuat dan ramah. Pada akhirnya, bidan membuat penentuan tentang peluang untuk kelangsungan hidup bayi dan kemungkinan merekomendasikan agar bayi yang baru lahir dengan cacat parah terkena.
Abad kedua terakota Ostian bantuan dari makam Scribonia Attice, istri dokter-dokter bedah M. Ulpius Amerimnus, detail sebuah adegan melahirkan. Scribonia adalah seorang bidan dan lega menunjukkan dirinya di tengah-tengah pengiriman. Seorang pasien duduk di kursi bersalin, mencengkeram pegangan dan asisten bidan berdiri di belakang memberikan dukungan. Scribonia duduk di bangku rendah di depan wanita, merendah memalingkan muka sementara juga membantu pengiriman oleh dilatasi dan memijat leher rahim, seperti yang didorong oleh Soranus.
Jasa bidan tidak murah; kenyataan ini menunjukkan bahwa perempuan miskin yang tidak mampu jasa bidan profesional sering harus membuat hubungannya dengan saudara perempuan. Banyak keluarga kaya memiliki bidan mereka sendiri. Namun, sebagian besar perempuan di dunia Yunani-Romawi sangat mungkin menerima perawatan bersalin dari menyewa bidan, baik yang sangat terlatih atau yang memiliki pengetahuan dasar kebidanan. Selain itu, banyak keluarga memiliki pilihan apakah atau tidak mereka ingin mempekerjakan seorang bidan yang terlatih obat rakyat tradisional atau metode baru proses kelahiran profesional.
Seperti banyak faktor lain di zaman kuno, seringkali perawatan kebidanan berkualitas sangat bergantung kepada status sosial ekonomi pasien.
perspektif sejarah
Pada abad ke-18, sebuah divisi antara dokter dan bidan muncul, sebagai orang medis mulai menegaskan bahwa proses ilmiah modern mereka adalah lebih baik bagi ibu dan bayi daripada kaum-medis bidan.
Pada awal abad ke-18 di Inggris, kebanyakan bayi tertangkap oleh bidan, tetapi pada awal abad ke-19, sebagian besar bayi-bayi yang lahir pada orang-orang berarti memiliki ahli bedah yang terlibat. Sejumlah penelitian baik panjang penuh bersejarah ini pergeseran telah ditulis.
Ilmuwan sosial Jerman Gunnar Heinsohn dan Otto Steiger sudah mengajukan teori bahwa kebidanan menjadi sasaran penganiayaan dan penindasan oleh otoritas publik, karena bidan tidak hanya dimiliki sangat khusus tentang pengetahuan dan keterampilan yang membantu kelahiran, tapi juga mengenai kontrasepsi dan aborsi. [11] Menurut untuk Heinsohn dan Steiger teori, negara modern menganiaya bidan sebagai penyihir dalam usaha untuk terisi kembali benua Eropa yang mengalami kerugian parah tenaga kerja sebagai hasil dari pes (juga dikenal sebagai kematian hitam) yang menyapu benua gelombang, mulai tahun 1348.
Mereka demikian menafsirkan perburuan penyihir sebagai menyerang kebidanan dan pengetahuan tentang pengendalian kelahiran dengan tujuan demografis dalam pikiran. Memang, setelah penyihir perburuan, jumlah anak per ibu meningkat tajam, sehingga menimbulkan apa yang disebut “ledakan penduduk Eropa” modern kali, menghasilkan tonjolan pemuda yang sangat besar yang memungkinkan Eropa untuk menjajah sebagian besar sisa dunia.

Minggu, 20 Maret 2011

HIV dalam Kehamilan dan Persalinan


Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah nama untuk virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dalam ilmu biologi, yang dimaksud dengan virus adalah parasit yang berperilaku sebagai makhluk hidup ketika berada pada jaringan hidup, termasuk jaringan pada tubuh manusia, hewan, tumbuhan, jamur, dan bakteri. Khususnya bagi manusia, sebagian besar virus dapat menjadi agen penyakit tertentu.  Di antara penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, AIDS merupakan penyakit yang saat ini paling ditakuti orang karena sejauh ini obat untuk penyakit AIDS belum berhasil ditemukan.
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi virus HIV tersebut. Gejala tersebut diantaranya demam, keringat malam hari, lesu, ruam, nyeri kepala, lymphadenopathia, pharyngitis, nyeri otot, mual dan muntah serta diare. Infeksi virus HIV secara perlahan menyebabkan tubuh kehilangan kekebalannya oleh karenanya berbagai penyakit akan mudah masuk ke dalam tubuh. Akibatnya penyakit-penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi bahaya bagi tubuh.
slowly but deadly“, pelan tapi mematikan itulah julukan untuk virus penyakit yang satu ini. HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan bagi manusia, bahkan hingga saat ini belum ditemukan obat untuk mengatasi penyakit yang menyerang sistem kekebalan manusia itu. Cara penularan virus tersebut bisa melalui caira sperma atau vagina dengan berhubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersama dari orang yang sudah terinfeksi HIV, transfusi darah yang terkontaminasi virus HIV, dan dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya.
Orang yang terinfeksi HIV biasanya dapat hidup bertahun-tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda penyakit. Mereka mungkin tampak sehat dan merasa sehat tetapi dapat menularkan virus pada orang lain. Pengobatan hanya akan membantu Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) untuk hidup lebih lama tetapi penyakit AIDS sendiri belum dapat disembuhkan tetapi dapat ditekan jumlah HIV dengan obat antiretroviral (ARV).
Dari uraian diatas telah menyebutkan, bahwa salah satu penularan HIV/AIDS yaitu dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya. Penularan HIV dari ibu ke anak merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia, seperti 25 sampai 35% dari semua bayi yang ibunya tidak diobati memiliki suatu strain virus menjadi terinfeksi. Tragisnya, angka ini diterjemahkan menjadi sekitar setengah juta bayi yang lahir setiap tahun sudah didiagnosis dengan HIV.
Menurut suatu penelitian, sekitar 120.000 sampai 160.000 perempuan di Amerika Serikat diperkirakan telah terinfeksi HIV. Sekitar 6.000 sampai 7.000 perempuan terinfeksi HIV melahirkan setiap tahunnya. Sejak awal epidemi HIV / AIDS, sekitar 15.000 anak-anak di Amerika Serikat telah terinfeksi HIV dan 3.000 anak meninggal.   Di Indonesia sendiri, jumlah perempuan hamil yang terinfeksi HIV di Indonesia terus meningkat. Menurut perkiraan DepKes RI sekitar 7000 perempuan hamil terinfeksi HIV setiap tahun. Niat untuk hamil dan mempunyai anak perlu didengarkan dan dicarikan jalan keluarnya agar pasangan yang HIV negatif tidak tertular HIV begitu juga anak yang dikandung. Salah satu cara untuk mengurangi risiko penularan pada pasangan suami HIV positif dan istri HIV negatif.  Perempuan HIV positif yang hamil akan menghadapi risiko keadaan yang tidak diinginkan seperti abortus spontan, kematian janin dalam kandungan, pertumbuhan janin yang terhambat, berat badan bayi rendah, bayi premaur dan korioamneitis. Selain itu berbagai infeksi menular seksual seperti kandidiasis vulvovaginal, vaginosis bacterial, herpes genital, gonorea, sifilis dapat menyertai kehamilan pada perempuan HIV positif. Risiko penularan pada masa kehamilan sekitar 7%, pada proses kelahiran 15% serta penularan melalui air susu ibu sekitar 13%. Melalui upaya pencegahan yang lengkap risiko ini dapat diturunkan hingga menjadi hanya 2%.
Ibu denganHIV-positif dapat mengurangi risiko bayinya tertular dengan mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV), menjaga proses kelahiran yang singkat dan menghindari menyusui. Penggunaan ARV, risiko penularan sangat rendah bila terapi ARV (ART) dipakai. Angka penularan hanya 1-2 persen bila ibu memakai ART. Angka ini kurang-lebih 4 persen bila ibu memakai AZT selama enam bulan terahkir kehamilannya dan bayinya diberikan AZT selama enam minggu pertama hidupnya. Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit melahirkan, ada dua cara yang dapat mengurangi separuh penularan ini, yaitu AZT dan 3TC dipakai selama waktu persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir dan satu tablet nevirapine pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 2-3 hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen. Namun, resistansi terhadap nevirapine dapat muncul pada hingga 20 persen perempuan yang memakai satu tablet waktu hamil. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu. Resistansi ini juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui. Walaupun begitu, terapi jangka pendek ini lebih terjangkau di negara berkembang. Menjaga proses kelahiran tetap singkat waktunya, semakin lama proses kelahiran, semakin besar risiko penularan. Untuk mengurangi risiko penularan, proses persalinan dapat dilakukan dengan operasi sesar. Menghindari menyusui,  kurang-lebih 14 % bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi. Risiko ini dapat dihindari jika bayinya diberi pengganti ASI (PASI, atau formula). Namun jika PASI tidak diberi secara benar, risiko lain pada bayinya menjadi semakin tinggi. Jika formula tidak bisa dilarut dengan air bersih, atau masalah biaya menyebabkan jumlah formula yang diberikan tidak cukup, lebih baik bayi disusui. Yang terburuk adalah campuran ASI dan PASI. Mungkin cara paling cocok untuk sebagian besar ibu di Indonesia adalah menyusui secara eksklusif (tidak campur dengan PASI) selama 3-4 bulan pertama, kemudian diganti dengan formula secara eksklusif (tidak campur dengan ASI).
Jika dites HIV, sebagian besar bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV-positif menunjukkan hasil positif. Ini berarti ada antibodi terhadap HIV dalam darahnya. Namun bayi menerima antibodi dari ibunya, agar melindunginya sehingga sistem kekebalan tubuhnya terbentuk penuh. Jadi hasil tes positif pada awal hidup bukan berarti si bayi terinfeksi. Jika bayi ternyata terinfeksi, sistem kekebalan tubuhnya akan membentuk antibodi terhadap HIV, dan tes HIV akan terus-menerus menunjukkan hasil positif. Jika bayi tidak terinfeksi, antibodi dari ibu akan hilang sehingga hasil tes menjadi negatif setelah kurang-lebih 6-12 bulan. Sebuah tes lain, serupa dengan tes viral load dapat dipakai untuk menentukan apakah bayi terinfeksi, biasanya beberapa minggu setelah lahir. Tes ini, yang mencari virus bukan antibodi, saat ini hanya tersedia di Jakarta, dan harganya cukup mahal.
            Penelitian baru menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif yang hamil tidak menjadi lebih sakit dibandingkan yang tidak hamil. Ini berarti menjadi hamil tidak mempengaruhi kesehatan perempuan HIV-positif. Namun, terapi jangka pendek untuk mencegah penularan pada bayi bukan pilihan terbaik untuk kesehatan ibu. ART adalah pengobatan baku. Jika seorang perempuan hamil hanya memakai obat waktu persalinan, kemungkinan virus dalam tubuhnya akan menjadi resistan terhadap obat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan masalah untuk pengobatan lanjutannya.
Seorang ibu hamil sebaiknya mempertimbangkan semua masalah yang mungkin terjadi terkait ART, seperti jangan memakai ddI bersama dengan d4T dalam ART-nya karena kombinasi ini dapat menimbulkan asidosis laktik dengan angka tinggi, jangan memakai efavirenz atau indinavir selama kehamilan, bila CD4-nya lebih dari 250, jangan mulai memakai nevirapine. Beberapa dokter mengusulkan perempuan berhenti pengobatannya pada triwulan pertama kehamilan, karena risiko dosis dilewatkan akibat mual dan muntah selama awal kehamilan dengan risiko mengembangkan resistansi terhadap obat yang dipakai, Risiko obat mengakibatkan anak cacat lahir, yang tertinggi pada triwulan pertama, tidak ada bukti terjadi cacat lahir, selain dengan efavirenz. Para ahli tidak sepakat apakah penggunaan ART menimbulkan risiko lebih tinggi terhadap lahir dini atau bayi lahir dengan berat badan rendah.
Jika kita HIV-positif dan dalam keadaan hamil, atau ingin  hamil, sebaiknya kita bicara dengan dokter tentang pilihan menjagakan kesehatan sendiri, dan mengurangi risiko bayi kita terinfeksi HIV atau cacat lahir.








Jumat, 04 Maret 2011

EFEK SAMPING AKDR/IUD DAN KOMPLIKASI YANG DAPAT TERJADI DAN CARA PENANGGULANGANNYA



        AKDR/IUD merupakan suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya bermacam – macam, terdiri dari plastik (polietiline). Ada yang dililit tembaga dan ada yang tidak. Contoh : IUD Cu T, MLCu, Lippes Loop.

Kegagalan yang terjadi :
        AKDR/IUD berupa alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim dan angka kegagalannya 0,3 – 1,0 %. Kegagalan dapat terjadi kalo pemasangan tidak benar, misalnya hanya di daerah leher rahim atau keluar dari rahim (translokasi). Juga bila KADR/IUD sudah keluar dari rahim tanpa diketahui oleh akseptor (ekspulsi). Kadang – kadang terjadi kehamilan dengan spiral/IUD masih di dalam rahim disebabkan AKDR/IUD tersebut tidak efektif karena pemakainnya mlebihi jangka waktu yang ditentukan (antara 5-8 tahun).

        Gejala efek samping yang ditimbulkan oleh AKDR/IUD antara lain terjadinya gangguan haid/menstruasi, keputihan, perasaan kurang enak yang disertai demam menggigil, dapat juga terjadi benangnya tidak teraba ataupun keliarnya cairan vagina yang berlebihan. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut terus berlanjut maka segera lakukan rujukan ke tempat pelayanan.

Beberapa masalah AKDR/IUD yang sering terjadi dan cara penanggulangannya :

MASALAH
CARA PENANGGULANGANNYA
a.   Pendarahan, gangguan haid berlebihan memang kadang - kadang terjadi pada 3 bulan pertama pemakaian AKDR/IUD
-      Kalo permasalahan ringan, dianjurkan agar dilakukan konseling, dan apabila pendarahan banyak, dianjurkan agar dirujuk ke tempat pelayanan
-      Kompres perut dengan air dingin
-      Dibawa ke klinik atau rumah sakit terdekat
b.   Nyeri perut bagian bawah atau keputihan yang berbau
-      Segera dibawa ke puskesma untuk pengobatan selanjutnya, karena kemungkinan terjadi infeksi
c.   Perasaan kurang enak, demam, menggigil
-      Segera dibawa ke petugas kesehatan
d.   Benang AKDR hilang, bertambah pendek atau memanjang
-      Jika akseptor mengetahui bahwa AKDR-nya telah keluar, hilang, agar segera dibawa ke klinik atau RS terdekat
-      Bila terjadi kehamilan segera dibawa ke pelayanan kesehatan lengkap
e.   Bila terjadi cairan vagina yang banyak
-      Segera dirujuk ke klinik atau rumah sakit terdekat

Sumber : Panduan penanggulangan efek samping dan komplikasi akibat kontrasepsi bagi petugas lapangan, Bandung : Badan koordinasi keluarga berencana nasional propinsi jawa barat, 2004.

Masalah Sistem Pencernaan pada Kehamilan




A.    Gastritis

a.    Definisi

Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung (cuningham,2005). Sedangkan, Gastritis adalah inflamasi pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa gaster (Sujono Hadi, 1999).

b.    Etiologi

     Gastritis dapat disebabkan oleh terlalu banyak minum alkohol, penggunaan obat-obat anti peradangan nonsteroid jangka panjang (NSAIDs) seperti aspirin atau ibuprofen, atau infeksi bakteri-bakteri seperti Helicobacter pylori (H. pylori). Kadangkala gastritis berkembang setelah operasi utama, luka trauma, luka-luka bakar, atau infeksi-infeksi berat. Penyakit-penyakit tertentu, seperti pernicious anemia, kelainan-kelainan autoimun, dan mengalirnya kembali asam yang kronis, dapat juga menyebabkan gastritis.

c.    Faktor predisposisi

          Faktor predisposisi adalah bahan-bahan kimia, merokok, kafein, steroid, obat analgetik, anti inflamasi, cuka atau lada.

d.    Klasifikasi

Gastritis dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :

1.  Gastritis akut

          Gastritis akut merupakan iritasi mukosa lambung yang sering diakibatkan karena diet yang tidak teratur. Dimana individu makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab. Gastritis akut merupakan penyakit yang sering ditemukan biasanya jinak dan dapat sembuh dengan sendirinya, merupakan respon mukosa lambung terhadap berbagai iritasi lokal.

2.    Gastritis Kronik

          Merupakan iritasi lambung yang dapat disebakan oleh ulcus benigna atau maligna dari lambung atau lebih helicobacter pylori.

e.    Patofisiologi

     Mekanisme kerusakan mukosa pada gastritis diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara faktor-faktor pencernaan, seperti asam lambung dan pepsin dengan produksi mukous, bikarbonat dan aliran darah.

f.     Tanda dan gejala

       Nyeri epigastrium yang tidak hebat, nyeri tekan pada epigastrium, mual, muntah anoreksia, muntah darah bila berat.

g.    Komplikasi

1.    Gastritis akut

Perdarahan saluran cerna bagian atas berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syok hemoragik.

2.    Gastritis kronik

Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi, dan anemia karena gangguan absorpsi vitamin B12.

h.    Efek pada kehamilan

Wanita hamil dengan gastritis mungkin lebih rentan terhadap mual dan muntah. Muntah dan akan menghalangi ibu dan  bayi untuk mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Jika ibu tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup, maka akan berpengaruh pada janin. Misalnya kemungkinan janin mengalami BBLR.

i.      Penanganan


1.    Melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik sesuai keluhan yang dirasakan oleh ibu

2.    Pengobatan gastritis antara lain meliputi :

1)    Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi.
2)    Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat   dijumpai.
3)    Pemberian obat-obat antasid atau obat-obat ulkus lambung yanglain. (Soeparman, 1999)

B.    Appendiksitis

a.    Definisi

            Apendiksitis adalah kondisi yang ditandai oleh peradangan dari apendiks.

b.    Etiologi

            Penyebabnya hampir selalu akibat obstruksi lumen appendix oleh apendikolit, fekalomas (tinja yang mengeras), parasit (biasanya cacing ascaris), benda asing, karsinoid, jaringan parut, mukus, dan lain-lain.


c.    Patofisiologi

         Oklusi lumen appendiks mencegah sekresi mukosa menjadi kering. Sebagian sekresi menumpuk, tekanan intraluminal meningkat dan mempengaruhi aliran darah mukosa yang menyebabkan hipoksia. The iskemia mukosa dapat berkembang menjadi ulkus, yang memberikan jalan masuk untuk invasi bakteri. Invasi bakteri memicu respon inflamasi akut, dengan edema mukosa yang meningkat, edema tersebut akan menyebabkan obstruksi selanjutnya mengganggu aliran darah. Karena arteri appendiks merupakan akhir percabangan dari arteri ileocolic. Hal itu sangat rentan terhadap oklusi dari tekanan intraluminal meningkat. Sumbatan biasanya menyebabkan nekrosis dan perforasi usus buntu.

d.    Tanda dan Gejala

1.    Nyeri dibagian abdomen kanan bawah menuju ke tengah
2.    Anoreksia, rasa tidak enak, konstipasi, kadang kadang disertai diare, dan mual muntah
3.    Tergantung pada lokasi appendix, gejala lain yang dapat terjadi adalah :
a.    Apendiks yang berdekatan dengan kandung kemih akan terasa nyeri saat buang air kecil dan menjadi lebih sering untuk berkemih
b.    Retrocecal atau panggul terasa  nyeri perut dalam panggul atau pada pemeriksaan dubur
4.    Suhu normal atau sedikit tinggi (37,2° sampai 38° C ; 99° sampai 100°F) namun 25% afebris
5.    Takikardia juga menyertai suhu yang meninggi
6.    Pyuria
7.    Berkurang atau bahkan tidak ada suara bising usus
8.    Tanda – tanda perforasi :
a.    peningkatan rasa sakit, kelembutan, kejang diikuti dengan adanya peritonitis umum atau lokal
b.    peningkatan suhu,rasa tidak enak, takikardi
c.    diagnosis usus buntu dibuat dengan berkurangnya peristaltis dan berkurangnya kompresibilitas usus buntu (Witlin & Sibai, 1996).

e.    Efek pada Kehamilan

         Laparoskopi operasi dapat dilakukan dengan aman selama kehamilan, tetapi kemungkinan komplikasi, seperti cedera rahim, kesulitan selama prosedur, peningkatan tekanan intra-abdomen dan penyerapan CO2 oleh janin dan ibu harus dipertimbangkan serius walau efek dari penyerapan tersebut masih belum jelas, namun Dalam studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal masyarakat Amerika anestesi 2004, penulis menyimpulkan bahwa pneumoperitoneum CO2 menghasilkan asidosis pernafasan, tetapi tidak menurunkan oksigenasi janin, sebaliknya temuan menunjukkan bahwa pada janin prematur, insuflasi diinduksi hypercapnia dan asidosis disertai dengan janin hipoksia berkepanjangan dan depresi kardiovaskular.

f.     Penatalaksanaan


1.    Penanganan awal

a)    Konsultasi

1)   Konsul dengan dokter untuk diagnosis
2)   Mengacu wanita untuk ahli bedah dalam kasus-kasus yang dicurigai apendisitis

b)    Pendidikan pada pasien

1)   Menjelaskan proses terjadinya penyakit, kemajuan dan rencana perawatan
2)   Memberi nasihat pada pasien mengenai kemungkinan operasi jika diagnosis usus buntu telah ditetapkan
3)   Mengajarkan pasien tentang tanda dan gejala persalinan prematur

c)    Manajement perawatan

1)    dalam kehamilan,  dugaan usus buntu adalah diagnosis untuk dilakukannya laparotomi (witlin & sibai, 1996)
2)    selama observasi, pasien harus istirahat dan diberikan apapun melalui mulut. Tidak ada obat pencahar atau narkotika harus diresepkan, ini akan mengganggu penilaian untuk pengembangan penyakit
3)    merujuk klien kepada dokter bedah segera setelah kecurigaan yang kuat atau diagnosis usus buntu dibuat
4)    melakukan pengawasan pada janin pada kehamilan sebelum dan setelah dilakukan operasi, namun atas indikasi

2.    Penanganan lanjut

a.       Tindak lanjut atas indikasi dari dokter bedah
b.      melakukan pengujian pengawasan pada janin dan pemantauan aktivitas rahim, seperti ditunjukkan untuk kecurigaan diagnosis dan ketika ada kecurigaan usus buntu

C.    Wasir (Hemoroid)

a.    Definisi

          Hemoroid (Wasir) adalah pembengkakan jaringan yang mengandung pembuluh balik (vena) dan terletak di dinding rektum dan anus. Hemoroid bisa mengalami peradangan, menyebabkan terbentuknya bekuan darah (trombus), perdarahan atau akan membesar dan menonjol keluar. Wasir yang tetap berada di anus disebut hemoroid interna (wasir dalam) dan wasir yang keluar dari anus disebut hemoroid eksterna (wasir luar).

b.    Etiologi

          Wasir bisa terjadi karena peregangan berulang selama buang air besar, dan sembelit (kesulitan buang air besar, konstipasi) bisa membuat peregangannya bertambah buruk.  Penyakit hati menyebabkan kenaikan tekanan darah pada vena portal dan kadang-kadang menyebabkan terbentuknya wasir.


c.    Faktor Predisposisi

Dalam kehamilan dapat terjadi pelebaran vena hemoroidalis interna dan pleksus hemoroidalis eksterna, karena terdapatnya konstipasi dan pembesaran uterus. Hemoroid ini lebih nyata dan dapat menonjol keluar anus. Wasir yang kecil kadang – kadang tidak menimbulkan komplikasi hebat yaitu rasa nyeri serta perdarahan pada saat buang air besar, serta sesuatu yang keluar dari anus. (Sarwono,2007)

d.    Klasifikasi

Hemoroid dibedakan menjadi dua yaitu :

1.    Hemoroid Intern adalah Vena yang berdilatasi pada pleksus vena hemoroidalis superior dan media atau hemoroid yang terjadi atas sfingter anal. Hemaroid intern ini dibagi menjadi 4 tingkat yaitu :

1)    Tingkat I           : varises satu atau lebih V. hemoroidales interna dengan gejala perdarahan berwarna merah segar pada saat buang air besar.
2)    Tingkat II           : varises dari satu atau lebih v. hemoroidales interna yang keluar dari dubur pada saat defekasi tetapi masih dapat kembali dengan sendirinya.
3)    Tingkat III          : seperti tingkat II tetapi tidak dapat masuk spontan, harus didorong kembali.
4)    TingkatIV           : telah terjadi inkarserasi

2.    Hemaroid ektern yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus. Hemoroid inferior terdapat disebelah distal garis mukokutan didalam jaringan dibawah epitel anus atau hemaroid yang muncul di luar sfingter anus.

e.    Patofisiologi

         Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Kantung-kantung vena yang melebar menonjol ke dalam saluran anus dan rektum terjadi trombosis, ulserasi, perdarahan dan nyeri. Perdarahan umumnya terjadi akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar meskipun berasal dari vena karena kaya akan asam. Nyeri yang timbul akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis. Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid. Trombosis ini akan mengakibatkan iskemi pada daerah tersebut dan nekrosis.

Hemorrhoid interna:

         Sumbatan aliran darah system porta menyebabkan timbulnya hipertensi portal dan terbentuk kolateral pada vena hemorroidalis superior dan medius. Selain itu Sistem vena portal tidak mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.

Hemorrid eksterna:

         Robeknya vena hemorroidalis inferior membentuk hematoma di kulit yang berwarna kebiruan, kenyal-keras,dan nyeri. Bentuk ini sering nyeri dan gatal karena ujung-ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri.


f.     Tanda dan gejala

Adanya keluhan rasa perih di daerah anus, perdarahan, serta pada pengamatan ditemukan vena yang membengkak di anus atau di rectum. Pada hemoroid interna dan eksterna yang tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu diberi pengobatan, dan setelah melahirkan hemoroid tersebut akan mengecil sendirinya.

g.    Komplikasi

Komplikasi dari hemoroid yang paling sering adalah perdarahan, trombosis, dan strangulasi. Hemoroid yang mengalami strangulasi adalah hemoroid yang mengalami prolapsus dimana suplai darah dihalangi oleh sfingter ani. Keadaan trombosis dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan dapat menyebabkan nekrosis mukosa dan kulit yang menutupinya.
h.    Efek pada kehamilan

          Sebenarnya wasir tidak terlalu membahayakan, baik bagi ibu hamil maupun bagi janinnya. Meskipun sering keluar darah dari duburnya namun tak akan menularkan penyakit kepada janin, karena wasir sama sekali tidak berhubungan langsung dengan janin yang keluar melalui vagina. Ibu akan mengalami ketidaknyamanan sehingga aktivitasnya sehari-hari menjadi terganggu dan ia tidak menjalani kehamilannya dengan nyaman akibat perih yang ia rasakan. Bahaya wasir pada wanita hamil adalah timbulnya pendarahan yang bisa mengakibatkan anemia. Tetapi wasir bukan penghalang bagi ibu hamil yang ingin melahirkan normal meskipun wasir yang ia derita berada pada grade 3. Jika memang nantinya harus digunting, maka saat pengguntingan bisa diatur arahnya. Misalnya tidak menggunting ke arah anus tetapi ke sampingnya. Jika menggunting ke arah anus dikhawatirkan akan terjadi pendarahan.

i.      Penatalaksanaan

1.    Pencegahan

a)    Hindari mengejan terlalu keras saat buang air besar.
b)    Lakukan aktivitas buang air besar secara rutin. Misalnya sekali sehari.
c)    Yang paling aman adalah buang air besar dengan WC jongkok, karena dengan berjongkok tidak terjadi hambatan pembuluh darah. Sebaliknya pada saat duduk, ada hambatan pembuluh darah di wilayah anus. Namun hal ini masih harus diteliti lebih lanjut.
d)    Berolahraga-lah secara teratur.
e)    Perbanyak makanan yang kaya akan serat. Konsumsi serat yang dianjurkan adalah sekitar 30 ­ 35 gram per hari. Bahan makanan yang kaya akan serat adalah sereal, beras tumbuk, beras merah, ketan hitam, gandum, jagung, singkong, sayuran hijau atau agar-agar.
f)    Banyak minum air, paling sedikit 2 liter atau 8 gelas per hari.
g)    Harus diwaspadai pula, wasir sering kambuh walau sudah dilakukan pengobatan. Maka, mencegah lebih baik daripada mengobati.


D.   Thypus Abdominalis

a.    Definisi

        Tifus Abdominalis (demam tifoid enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang besarnya tedapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. (FKUI, 1985). Tifus abdominalis adalah infeksi yang mengenai usus halus, disebarkan dari kotoran ke mulut melalui makanan dan air minum yang tercemar dan sering timbul dalam wabah. (Markum, 1991).

b.    Etiologi

        Tyfus abdominalis disebabkan oleh salmonella typhosa, basil gram negatif, bergerak dengan bulu getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurngnya 3 macam antigen yaitu antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipopolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen Vi. Dalam serum penderita terdapat zat anti (glutanin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.

c.    Faktor predisposisi

            Faktor predisposisinya adalah minum air mentah, makan makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dari wc dan menyiapkan makanan.

d.    Patofisiologi

        Kuman salmonella typhosa masuk kedalam saluran cerna, bersama makanan dan minuman, sabagian besar akan mati oleh asam lambung HCL dan sebagian ada yang lolos (hidup), kemudian kuman masuk kedalam usus (plag payer) dan mengeluarkan endotoksin sehingga menyebabkan bakterimia primer dan mengakibatkan perdangan setempat, kemudian kuman melalui pembuluh darah limfe akan menuju ke organ RES terutama pada organ hati dan limfe. Di organ RES ini sebagian kuman akan difagosif dan sebagian yang tidak difagosif akan berkembang biak dan akan masuk pembuluh darah sehingga menyebar ke organ lain, terutama usus halus sehingga menyebabkan peradangan yang mengakibatkan malabsorbsi nutrien dan hiperperistaltik usus sehingga terjadi diare. Pada hipotalamus akan menekan termoregulasi yang mengakibatkan demam remiten dan terjadi hipermetabolisme tubuh akibatnya tubuh menjadi mudah lelah.
Selain itu endotoksin yang masuk kepembuluh darah kapiler menyebabkan roseola pada kulit dan lidah hipermi. Pada hati dan limpa akan terjadi hepatospleno megali. Konstipasi bisa terjadi menyebabkan komplikasi intestinal (perdarahan usus, perfarasi, peritonitis) dan ekstra intestinal (pnemonia, meningitis, kolesistitis, neuropsikratrik).

e.    Tanda dan gejala

Masa inkubasi rata-rata 2 minggu gejalanya: cepat lelah, malaise, anoreksia, sakit kepala, rasa tidak enak di perut, dan nyeri seluruh badan. Demam berangsur-angsur naik selama minggu pertama. Demam terjadi terutama pada sore dan malam hari (febris remitten). Pada minggu 2 dan 3 demam terus menerus tinggi (febris kontinue) dan kemudian turun berangsur-angsur.
Gangguan gastrointestinal, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor-berselaput putih dan pinggirnya hiperemis, perut agak kembung dan mungkin nyeri tekan, bradikardi relatif, kenaikan denyut nadi tidak sesuai dengan kenaikan suhu badan (Junadi, 1982).

f.     Komplikasi

1.     Pada usus halus:

1)    Perdarahan usus. Hanya sedikit ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak, terjadi melena, dapat disertai nyeri perut.
2)    Perforasi usus. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum.
3)    Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut hebat, dinding abdomen tegang dan nyeri tekan.

2.     Di luar usus

Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterinya) yaitu meningitis, kolesistisis, enselovati, dll

g.    Efek pada kehamilan, persalinan dan nifas

1.    Pada Kehamilan
          Penyakit ini lebih mungkin di jumpai selama Epidemi atau pada mereka yang terinfeksi oleh virus Imunodefisiensi manusia (HIV). Pada tahun 1990 di laporkan bahwa demam tifoid antepartum dahulu menyebabkan abortus hampir 80% / kasus, dengan angka kematian janin 60%, dan angka kematian ibu 25%. Penyakit Typhus Abdominalis ini masuknya ke bagian infeksi dari bakteri salmonella dan shigella. Berpengaruh terhadap kehamilan karna bisa menyebabkan kematian janin.
2.    Pada Persalinan
          Penyakit ini dapat terjadi melalui makanan dan minuman yang terinfeksi oleh bakteri Salmonella typhosa. Kuman ini masuk melalui mulut terus ke  lambung lalu ke usus halus. Di usus halus, bakteri ini memperbanyak diri lalu dilepaskan kedalam darah, akibatnya terjadi panas tinggi. Sehingga dapat berpengaruh pada janin kemungkinan bisa gawat janin.
3.    Pada Nifas
          Penyakit ini di tularkan melalui makan dan dampaknya bisa ke ibu dan bayi , dari ibunya sendiri bisa tertular lewat makanan yang sudah tercemar dan gejalanya meliputi: diare, nyeri abdomen, mual dan muntah, pada ibu yang  mempunyai penyakit ini bisa juga menular pada bayinya lewat ASI ibu dan mengakibatkan demam yang tinggi bila tidak di tindak lanjuti akan mengakibatkan kematian pada ibu dan bayinya.

h.    Penatalaksanaan


1.       Perawatan

a.  Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus.

b.  Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan - perubahan posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.


2.       Diet

a.  Pada mulanya klien diberikan bubur saring kemudian bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.

b.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada klien.

Daftar Pustaka


1.    Cunningham, F. Gary, 2005, Obstetric Wiliams, Edisi 21, EGC : Jakarta
2.    Doughty, B. Dorothy, 1993, Gastrointestinal Disorders, Mosby’s clinical nursing series
3.    Mansjoer, Arif, 2001, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Aesculapius : Jakarta
4.    Prawirahardjo S, 2007, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Penerbit : Yayasan Bina Pustaka, Jakarta
5.    Star L. Winifred, 1995, Ambulatory Obstetric Third, Edisi 3, USA : American Nurses Publishing.
6.    Dikutip pada tanggal 23 Februari 2011 pukul 13.12 wib http://www.scribd.com/doc/14051235/Gastritis
7.    Dikutip pada tanggal 23 Februari 2011 pukul 11.21 wib file:///D:/PENTING%20!/SEMESTER%20IV/ASKEB%20IV%20%28PATOLOGI%29/Gastritis.htm
8.    Dikutip pada tanggal 20 Febuari 2011 pukul 14.10